KeluargaDikshie’s Weblog
Just another family weblogArchive for October, 2007
My Poor Angelo
Sudah beberapa kali ini liat anak gw ‘dicuekin’ sama anak2 sebayanya. Belum kenal sih, tapi kalo sudah main di taman, si O’Kan pasti menganggap semua anak yang ada di sana sbg temennya. Sayangnya gak semua tipe anak sesupel dia. Jadi begitu anak gw mulai ngajak senyum dan menyentuh mainan yang sama, mereka kabur ke ibunya atau malah memarahi anak gw :p
Dulu sih, si O’Kan gak terlalu ambil pusing. Dia bisa langsung mengalihkan perhatiannya pada permainan yg lain. Tapi belakangan ini, gw menemukan ‘perasaan kecewa’ di wajahnya. Apalagi kalo dia sudah mencoba melakukan pendekatan berkali-kali. Contohnya kasus yang terakhir nih. O’Kan (2 th) lg asik muter-muterin mangkok putar yg kosong. Lalu datanglah si Ichiro (3 th, nama palsu) ini dgn mamanya mendekat. Anak gw reflek menghentikan otorisasinya sama permainan itu. Dia langsung naik ke atas mangkok dgn ceria, berpikir bahwa si Ichiro ingin sama2 naik mangkok putar itu. Ternyata, Ichiro malah berbelok ke arah kuda-kudaan per. Saat dia lg ogel2an sama kuda per itu, O’Kan pun mendekat. Menyentuh kuda2an sambil tersenyum ceria. Si Ichiro terusik. Langsung turun dan menyeret mamanya ke arah ayunan. Ichiro dan mamanya masing2 naik ayunan. Anak gw langsung berlari ke arah ayunan yg ketiga. Dia sih belum bisa naik sendiri, jadi ayunan itu cuma dipegangin aja sambil tertawa-tawa pada Ichiro. Lagi-lagi Ichiro gak suka dan pindah ke permainan jungkat-jungkit bersama mamanya.
Dan di situlah sodara2, gw melihat O’Kan kecewa. Ekspresi wajahnya menegang. Bingung mungkin kenapa dicuekin. Kalau saja udah bisa bicara mungkin dia bakal berteriak protes: gw kan hanya ingin berteman, bermain bersama, kok situ gak mau sih?
O’Kan lalu mendatangi bangku yg gw dudukin sedari tadi. Biasanya boro-boro dia inget sama gw kalo udah asik main di taman bermain anak-anak. Tapi kali itu, mungkin dia gak bisa menerima satu penolakan lagi. Dan anak gw tau, bahwa sbg ibunya, gw gak mungkin akan menolak dia.
Jadi O’Kan mulai ikut duduk-duduk di bangku gw. Lalu dia mulai memandang gw sambil tersenyum, lalu menarik tangan gw ke arah ayunan. Setelah itu dia mengajak gw main jungkat-jungkit, dan jalan-jalan menjelajah bukit di samping taman.
Yah, emaknya sih terima nasib aja dijadiin bemper. Yang jelas hari itu dia jadi anak manis. Makannya bener dan bobok siangnya gak rewel
Moga-moga kejadian2 sejenis ini gak membuat anak gw trauma utk ttp jd anak yg ramah dan supel. Jya, my dearest son, ganbattene!
by: maNda